WiN A GIVEAWAY

 

background-of-tropical-watercolor-flowers_23-2147645548

Du du du…sekarang makin mudah uang keluar dari tabungan. Sat set sat set…lenyap kayak slap :D. Gegaranya…makin banyak produk-produk kece yang berseliweran di layar  smartphone ama laptop. Yaaa…ini racun online shop yang bikin dompet mangap-mangap kayak akan cupping..hihihi… Tetapi, semenjak semakin banyak yang jualan di media sosial, itu raCun makin mengganas saja. Buat kamu aja kali naaaa.. 😀

Jadi, bagaimana dengan kamu, pengunjung dan pembaca blog ini?

Pernah cari-cari, review, bahkan membeli di media sosia seperti Facebook, Instagram, Google+, Pinterest, dan kawan-kawannya? Yuk ikutan online survey ini. Ada Giveaway menarik bagi 3 responden per 2 minggu pengundian. Jadi, tiap 2 minggu sekali akan diundi 3 responden beruntung. Online survey ini merupakan bagian dari proses  penelitian tentang penggunaan social commerce dan potensi ekonominya. Terimakasih sudah dibantu isi. Dan terima kasih banyaaaakkk…buat dishare ke jejaringnya.

Mulai mengisi kuesioner…

Advertisements

Selintas e-commerce di 3 Provinsi

Tahun ini saya dan tim di kantor kedapatan tugas untuk mensurvey penggunaan TIK di 3 (tiga) provinsi, DIY, Jawa Tengah, dan Bali. Sebenarnya ini kegiatan nasional dan satker saya bertanggung jawab di di daerah tersebut. Dan….ini kali pertama saya terjun ikut survey yang ternyata…melelahkan. Lelah karena harus mengetuk pintu dan menanyai responden satu per satu. Tapi, selalu ada hal-hal yang menyenangkan dan tak terduga yang dialami. Bagaimana hasil survey-nya?

Secara resmi, hasil survey belum diolah keseluruhan. Tetapi, beberapa waktu yang lalu saya sempat membuatkan sekilas infografis khusus untuk perilaku ber-E-commerce di ketiga provinsi tersebut. Sengaja pilih yang bagian e-commerce karena datanya tidak banyak item dan isu ini relatif masih sangat panas di Indonesia.

Dalam hal digital buyer, Bali masih juaranya baik itu menjual atau pun membeli. Perilaku ber e-commerce pun paling banyak dilakukan melalui smartphone karena kemudahannya dan ketersediaanya di mana saja. Lagi bengong di jalan, buka-buka online shop via gawai…lirik sana sini..akhirnya tap BUY!! Simpel banget. Sesuai prediksi dan data nasional yang sudah pernah rilis, produk fashion adalah produk terlaris dan terpopuler di jagad pasar maya.

Indonesia sendiri diprediksi akan menjadi pasar e-commerce yang maju dan dinilai sebagai the fastest digital economu country. Meski nilai transaksi dan jumlah digital buyer kita masih rendah dibanding Malaysia, Singapura, dan Thailand. Asalkan infrastruktur, regulasi, dan kepercayaan semakin kuat, kita tidak akan kalah dengan negara lain dalam ekonomi digital. Pada akhirnya, semoga masyarakatlah yang akan menerima kesejahteraan. Amiiinnnn….

POSTER INDIKATOR

 

Link Free Open Access Journal

Sudah lama banget tidak menulis di sini. Satu tahun!! Wewww…lama banget ya. Mudah-mudahan tidak di-banned sama WP. Biarpun tidak pernah posting, tiap hari buka akun WP lho….hehehe… Biasaaa narsis. Masih eksis juga ternyata nih blog. Masih banyak yang berkunjung. Tentunya seneeennnggg. Alhamdulillah sedikit-sedikit, ada manfaatnya buat orang lain. Tapi yaaa…sedih juga. Banyak yang datang tapi “suguhannya” mungkin sudah kadaluarsa ya. Atau ada komen-komen yang terbengkalai. Maafkannn… Yup, agak terlambat. Mari mulai posting lagi. Semangat!!!

Salah satu komentar yang banyak masuk adalah permintaan jurnal. Waduuuuh… Dikira sini gudang jurnal kali ya… :D. Ada yang saya kirim via email tapi kan kadang tidak sesuai dengan harapan yaa. Hanya lihat dari kata kunci dan judulnya saja tidak menjamin jurnal tersebut sesuai dengan apa yang kita cari.

Sekarang tuntutannya luar biasa ya. Untuk riset bahkan tingkat S1 pun diminta tinjauan literatur berupa jurnal. Bukan buku saja atau lebih parah skripsi temen…qiqiqi. Ya bukannya tidak boleh. Tapi kadang kurang relevan, signifikan, dan up to date dibanding jurnal. Apalagi untuk mahasiswa pascasarjana, doktoral, atau yang punya profesi seperti saya. Baca jurnal wajib hukumnya :). Beberapa waktu lalu saya diberi modul research methodolgy seorang teman yang kuliah di ITC, Belanda sana. Menurut yang saya baca, riset yang baik, selayaknya mengacu dan mengkaji jurnal internasional. Ini penting dan harus. Setelah itu baru jurnal terbitan tingkat nasional, baru kemudian jurnal terbitan tingkat lokal. Sayangnya, jurnal internasional tidak gratis dong yaaa. Jurnal yang bagus-bagus terbitan IEEE, ScienceDirect, JSTOR, Taylor& Francis, ProQuest, dan kawan-kawannya itu tidak bisa diakses dengan gratis. Paling cuman bisa baca-baca abstract-nya aja. Kalau tidak cocok, ya udah langsung ditutup aja. Tapiii…kalau pas banget, gimana coba?? Hiks hiks…baca abstract-nya aja sangat tidak membantu. Beruntunglah teman-teman yang punya akun disana. Atau institusinya langganan jurnal (fuiihhh…kapan ya institusi saya langganan jurnal yang banyak). Atau punya teman yang bisa dimintai tolong unduh (thanks for men-temen :D). Itu sungguh berkah luar biasa :D.

Terus yang tidak punya?? Gigit jari gitu??  Qiqiqi…jangan dong ya. Masih ada Google :D. Yaaa…gitu aja mah kita udah tahu..basii ahhh. Qiqiqi…yaa maap. Sapa pun setuju Google gudang segala macem informasi ya. Nah, ini ada beberapa link open access journal yang biasa saya datangi. Continue reading

Riset Ala Pippi Longstocking

Pippi Longstocking

Pernah dengar tentang Pippi Si Kaus Kaki Panjang atau Pippi Longstocking? Yup, Pippi adalah tokoh rekaan Astrid Lindgren. Anak perempuan, usia sekitar 9 tahun, teramat sangat kuat dan selalu ceria. Pippi adalah tokoh favorit saya sejak kecil sampai sekarang. Saya punya ketiga seri-nya. Buku ke-4, Pippi Menggunduli Pohon Natal, belum punya. Cari di Gramedia tidak ada.Mungkin di toko buku loak baru ada ya atau pesan online di eBay atau Amazon. Sampai sekarang, koleksi Pippi masih utuh, masih sering dibaca, dan kok ya masih relevan dengan kehidupan masa kini. Jarang-jarang ada buku anak yang kontennya pas di tiap masa. Astrid Lindgren yang seorang ibu, paham benar buku anak bukan semata hiburan tapi bagaimana menanamkan moral yang baik ke anak dengan pendekatan ala anak-anak juga.

Salah satu relevansi yang saya temukan ada kaitannya dengan pekerjaan. Kalau tidak salah, di buku #2 “Pippi Di Negeri Taka Tuka”, diceritakan Pippi menemukan kata “Selepung”. Pagi hari, Thomas dan Annika (sobat kental Pippi), menemukan Pippi lagi duduk di atas meja di dapur dengan mata berbinar-binar. “I found new word, SELEPUNG!!!!” Nah lho, selepung itu apa  tanya Thomas dan Annika. “Weee…lha iyo, selepung ki sak jane opo yooo” (kok malah jadi njawani…hehehehe) Yang tadinya gembira menemukan kata baru berganti suram karena menemukan masalah. Apa itu selepung? Seperti apa rupanya?Berbaukah? Hijau? Putih? Atau tidak berwarna. Apa bisa dimakan? Atau selepung itu obat? Untuk apa selepung? Dan baaaaaaaaaanyak pertanyaan lainnya. Pippi menemukan masalah!!! Continue reading

Transisi DTV: Tantangan dan Peluang

Pemerintah melalui Kementrian Kominfo sudah menetapkan roadmap penyiaran digital di Indonesia. Uji coba telah dilakukan di sekitar Jabotabek pada tahun lalu dan berencana akan dilakukan pula di beberapa kota besar. Tapi belum tahu, kapan. Meski banyak negara telah bermigrasi di ke penyiaran digital dan belum ada yang benar-benar cut-off perlu rasanya melihat peluang dan tantangan serta belajar dari kegagalan-kesuksesan negara lain.

Ada jurnal yang menurut saya bagus, moncoba mengkomparasi proses migrasi di US, Inggris, dan Prancis serta bagaimana US dapat mengambil pelajaran dari dua negara Eropa itu. Jurnal ini ditulis oleh Hernan Galperin (2002). Judulnya Can the Us transition to digital TV be fixed? Some lessons from two European Union cases dari  Journal of Telecommunication Policy Vol 26 pp 3-15 Continue reading

Model Kesiapan Penerimaan Teknologi

Membaca sekaligus memahami sebuah jurnal bukan pekerjaan mudah, buat saya. Apalagi jurnal bukan berbahasa Indonesia. Sulitnya bertumpuk-tumpuk jadi malas…hehehe… Tapi, mau tidak mau, suka tidak suka, harus dijalani tho. Lama-lama jadi terbiasa dan nikmat. Semakin dijalani semakin cwuintaaaahhhh…hehehehe.

Saya baru saja menemukan jurnal bagus. Judulnya “ The effect of service employees’ technology readiness on technology acceptance”. Penulisnya Rita Walczuch,  Jos Lemmink, dan Sandra Streukens. Dirilis dari Science Direct di Journal of Information & Management (2007) Vol 44, page 206-215. Lengkap amat informasinya…hehehe… Yaa..siapa tahu ada yang mensitasi. Kalau saya sih, mau :D. Continue reading

What a nice discussion… :)

Diskusi tidak selalu dengan bertatap muka. Hadir bersama dalam satu waktu dan satu ruang. Perbedaan ruang dan waktu tidak menjadi hambatan bagi siapa pun untuk berdiskusi. Skype, YMessenger, Gtalk, FB Discussion, Koprol, Buddy, dan masih banyak lagi, bisa menjadi tempat diskusi yang asyik. Lebih dari sekedar chat biasa. Asyiknya diskusi live ini adalah, banyak link yang bisa kita gunakan untuk mencari referensi. Sambil chat-disc, kita bisa mencari referensi untuk mencari kebenaran. Ingat, mencari kebenaran. Apakah yang kita atau partner kita sampaikan benar atau tidak. Berdasarkan apa. Apa referensinya. Sehingga diskusi semacam debat kusir bisa dihindarkan.

Saya menuliskan ini berdasarkan pengalaman. Betapa diskusi menjadi arena yang tidak menyenangkan tatkala satu pihak memojok pihak yang lain dan haqqul yaqin apa yang disampaikan benar, sedangkan orang lain salah. Jika sudah begini, saya lebih senang ambil handphone, browsing, dan sampaikan padanya…”Menurut teori A, ini bla bla bla….sedangkan menurut teori B, blablabla…jadi kesimpulannya..blablabla..” Setidaknya bisa mengurangi waktu berpanjang-panjang untuk debat yang tidak efektif. Bukankah diskusi untuk mencari kebenaran, bukan mendebat. Atau kebanyakan mengatakan “dibantai”. Wuihhh…kata-katanya, kejammm…. 🙂

Kemarin saya baru saja diskusi dengan teman lewat Ymessenger. Dia di Jakarta, saya di Yogyakarta. Sebelumnya, teman saya minta tolong mengolah data. Sebenarnya dia salah sasaran, saya tidak tahu banyak tentang teori regresi, multivariat dan sebagainya. Kalau cuman mengolah saja…cincailahhhhh….tinggal klak-klik, input sana-sini. Tapi yang pentingkan formula dasarnya yang kerap kali kita lupakan. Apalagi kalau sudah software yang memudahkan pengolaha, semakin lupalah kita dengan teori dasarnya. Ternyata, teman saya tipe yang kritis dan tidak mau terima jadi. Begitu hasil saya serahkan, segera dia tanya-tanya, cari bukunya, mencoba olah sendiri, dan traraaaaa……berdiskusilah kita karena hasil pengolah kita sama tapi ada poin yang berbeda. Teman saya berpanduan pada buku yang dia gunakan, saya juga keukeuh dengan buku yang saya gunakan. Sepertinya ketikan jari di keyboard tidak sanggup menyeimbangkan kata yang mau diluncurkan…asyik banget.

Merasa sama-sama tidak yakin dan tidak puas, akhirnya saya chat-disc sambil browsing. Dan ternyata….kami mengolah data dengan perspektif yang berbeda, dan kedua-duanya benar. Ibaratnya, saya pegang setengah potongan dan teman saya memegang potongan yang lain. Betapa bodohnya kami….karenanya perlu selalu diskusi dan browsing ( yang bener..:) ) untuk memperkaya wawasan. What a nice discussion… miss u my friend... 🙂

Course and Enrollment About ICT Development In AVA UNAPCICT

Beberapa organisasi dunia di bawah naungan PBB sering sekali memberikan pelatihan bagi negara-negara anggotanya. Sebagaian dilakukan secara offline, sebagian besar diberikan secara online dengan kesempatan pertemuan offline dengan syarat dan ketentuan berlaku. Salah satunya UN-APCICT (Asia and Pacific  Training Centre for Information and Communication Technology for Development). APCICT memberikan segmen khusus diklat jarak jauh melalui AVA atau APCICT Virtual Academic yang berpusat di Seoul, Korea. Siapa pun boleh ikut serta dengan register terlebih dahulu dan kenegaraan kita masuk dalam member UN. Continue reading