Link Free Open Access Journal

Sudah lama banget tidak menulis di sini. Satu tahun!! Wewww…lama banget ya. Mudah-mudahan tidak di-banned sama WP. Biarpun tidak pernah posting, tiap hari buka akun WP lho….hehehe… Biasaaa narsis. Masih eksis juga ternyata nih blog. Masih banyak yang berkunjung. Tentunya seneeennnggg. Alhamdulillah sedikit-sedikit, ada manfaatnya buat orang lain. Tapi yaaa…sedih juga. Banyak yang datang tapi “suguhannya” mungkin sudah kadaluarsa ya. Atau ada komen-komen yang terbengkalai. Maafkannn… Yup, agak terlambat. Mari mulai posting lagi. Semangat!!!

Salah satu komentar yang banyak masuk adalah permintaan jurnal. Waduuuuh… Dikira sini gudang jurnal kali ya… :D. Ada yang saya kirim via email tapi kan kadang tidak sesuai dengan harapan yaa. Hanya lihat dari kata kunci dan judulnya saja tidak menjamin jurnal tersebut sesuai dengan apa yang kita cari.

Sekarang tuntutannya luar biasa ya. Untuk riset bahkan tingkat S1 pun diminta tinjauan literatur berupa jurnal. Bukan buku saja atau lebih parah skripsi temen…qiqiqi. Ya bukannya tidak boleh. Tapi kadang kurang relevan, signifikan, dan up to date dibanding jurnal. Apalagi untuk mahasiswa pascasarjana, doktoral, atau yang punya profesi seperti saya. Baca jurnal wajib hukumnya :). Beberapa waktu lalu saya diberi modul research methodolgy seorang teman yang kuliah di ITC, Belanda sana. Menurut yang saya baca, riset yang baik, selayaknya mengacu dan mengkaji jurnal internasional. Ini penting dan harus. Setelah itu baru jurnal terbitan tingkat nasional, baru kemudian jurnal terbitan tingkat lokal. Sayangnya, jurnal internasional tidak gratis dong yaaa. Jurnal yang bagus-bagus terbitan IEEE, ScienceDirect, JSTOR, Taylor& Francis, ProQuest, dan kawan-kawannya itu tidak bisa diakses dengan gratis. Paling cuman bisa baca-baca abstract-nya aja. Kalau tidak cocok, ya udah langsung ditutup aja. Tapiii…kalau pas banget, gimana coba?? Hiks hiks…baca abstract-nya aja sangat tidak membantu. Beruntunglah teman-teman yang punya akun disana. Atau institusinya langganan jurnal (fuiihhh…kapan ya institusi saya langganan jurnal yang banyak). Atau punya teman yang bisa dimintai tolong unduh (thanks for men-temen :D). Itu sungguh berkah luar biasa :D.

Terus yang tidak punya?? Gigit jari gitu?? Β Qiqiqi…jangan dong ya. Masih ada Google :D. Yaaa…gitu aja mah kita udah tahu..basii ahhh. Qiqiqi…yaa maap. Sapa pun setuju Google gudang segala macem informasi ya. Nah, ini ada beberapa link open access journal yang biasa saya datangi. Continue reading

What a nice discussion… :)

Diskusi tidak selalu dengan bertatap muka. Hadir bersama dalam satu waktu dan satu ruang. Perbedaan ruang dan waktu tidak menjadi hambatan bagi siapa pun untuk berdiskusi. Skype, YMessenger, Gtalk, FB Discussion, Koprol, Buddy, dan masih banyak lagi, bisa menjadi tempat diskusi yang asyik. Lebih dari sekedar chat biasa. Asyiknya diskusi live ini adalah, banyak link yang bisa kita gunakan untuk mencari referensi. Sambil chat-disc, kita bisa mencari referensi untuk mencari kebenaran. Ingat, mencari kebenaran. Apakah yang kita atau partner kita sampaikan benar atau tidak. Berdasarkan apa. Apa referensinya. Sehingga diskusi semacam debat kusir bisa dihindarkan.

Saya menuliskan ini berdasarkan pengalaman. Betapa diskusi menjadi arena yang tidak menyenangkan tatkala satu pihak memojok pihak yang lain dan haqqul yaqin apa yang disampaikan benar, sedangkan orang lain salah. Jika sudah begini, saya lebih senang ambil handphone, browsing, dan sampaikan padanya…”Menurut teori A, ini bla bla bla….sedangkan menurut teori B, blablabla…jadi kesimpulannya..blablabla..” Setidaknya bisa mengurangi waktu berpanjang-panjang untuk debat yang tidak efektif. Bukankah diskusi untuk mencari kebenaran, bukan mendebat. Atau kebanyakan mengatakan “dibantai”. Wuihhh…kata-katanya, kejammm…. πŸ™‚

Kemarin saya baru saja diskusi dengan teman lewat Ymessenger. Dia di Jakarta, saya di Yogyakarta. Sebelumnya, teman saya minta tolong mengolah data. Sebenarnya dia salah sasaran, saya tidak tahu banyak tentang teori regresi, multivariat dan sebagainya. Kalau cuman mengolah saja…cincailahhhhh….tinggal klak-klik, input sana-sini. Tapi yang pentingkan formula dasarnya yang kerap kali kita lupakan. Apalagi kalau sudah software yang memudahkan pengolaha, semakin lupalah kita dengan teori dasarnya. Ternyata, teman saya tipe yang kritis dan tidak mau terima jadi. Begitu hasil saya serahkan, segera dia tanya-tanya, cari bukunya, mencoba olah sendiri, dan traraaaaa……berdiskusilah kita karena hasil pengolah kita sama tapi ada poin yang berbeda. Teman saya berpanduan pada buku yang dia gunakan, saya juga keukeuh dengan buku yang saya gunakan. Sepertinya ketikan jari di keyboard tidak sanggup menyeimbangkan kata yang mau diluncurkan…asyik banget.

Merasa sama-sama tidak yakin dan tidak puas, akhirnya saya chat-disc sambil browsing. Dan ternyata….kami mengolah data dengan perspektif yang berbeda, dan kedua-duanya benar. Ibaratnya, saya pegang setengah potongan dan teman saya memegang potongan yang lain. Betapa bodohnya kami….karenanya perlu selalu diskusi dan browsing ( yang bener..:) ) untuk memperkaya wawasan. What a nice discussion… miss u my friend... πŸ™‚