3G MobileTV Acceptance in Indonesia

Layanan 3G sudah bisa dinikmati cukup lama di di Indonesia meski baru beberapa aplikasi saja yang dikembangkan dan bisa diakses pengguna. Salah satunya mobileTV. Sebenarnya, mobileTV berbasis 3G  apa sudah bisa dinikmati ya?? Karena yang baru bisa dinikmati masih layanan TV analog, sedangkan mobileTV sepertinya menggunakan teknologi digital yang baru dikembangkan.

Terlepas dari itu, ada sebuah prosiding menarik yang membahas tentang penerimaan mobileTV berbasis 3G di Indonesia. Riset ini ditulis oleh A.Qiantori dkk dan dirilis di  6th International Conference on Wireless and Mobile Communicatio tahun 2010. Masih gressss…. Continue reading

Advertisements

Transisi DTV: Tantangan dan Peluang

Pemerintah melalui Kementrian Kominfo sudah menetapkan roadmap penyiaran digital di Indonesia. Uji coba telah dilakukan di sekitar Jabotabek pada tahun lalu dan berencana akan dilakukan pula di beberapa kota besar. Tapi belum tahu, kapan. Meski banyak negara telah bermigrasi di ke penyiaran digital dan belum ada yang benar-benar cut-off perlu rasanya melihat peluang dan tantangan serta belajar dari kegagalan-kesuksesan negara lain.

Ada jurnal yang menurut saya bagus, moncoba mengkomparasi proses migrasi di US, Inggris, dan Prancis serta bagaimana US dapat mengambil pelajaran dari dua negara Eropa itu. Jurnal ini ditulis oleh Hernan Galperin (2002). Judulnya Can the Us transition to digital TV be fixed? Some lessons from two European Union cases dari  Journal of Telecommunication Policy Vol 26 pp 3-15 Continue reading

RUU Konvergensi, Belum Konvergen

RUU Konvergensi Telematika akhirnya dipublikasikan juga. Kemunculannya menjelang akhir tahun mengindikasikan bahwa pembahasan RUU di DPR akan molor. Seharusnya, menurut agenda, tahun ini DPR sudah membahasnya bersama RUU Tindak Pidana TI dan revisi RUU Penyiaran. Tampaknya negara ini belum bisa meninggalkan kebiasaan bermolor-ria-nya.

Merujuk definisi konvergensi dari European Union, OECD, ITU, konvergensi dapat dipandang sebagai perpaduan layanan telekomunikasi, teknologi informasi, dan penyiaran yang sebelumnya terpisah menjadi satu kesatuan hingga diperoleh nilai tambah dari layanan tersebut. Selengkapnya baca disini. Artinya bahwa, layanan telekomunikasi, teknologi informasi, dan penyiaran yang awalnya terpisah dengan regulasi yang terpisah pula akan dipadukan baik dari sisi layanan maupun regulasinya. Dengan demikian, akan ada perpaduan antara UU Telekomunikasi, UU ITE, dan UU Penyiaran. Menyatukan berbagai layanan bahkan regulasinya bukanlah perkara mudah. Meskipun ada panduan yang bisa dirujuk baik dari OECD melalui ICT Regulation Tool Kit-nya maupun ITU, tidak bisa diimplementasikan secara mentah-mentah di Indonesia yang sangat majemuk ini. Setidaknya, itulah gambaran awal saya tentang RUU Konvergensi Telematika ini. Namun, setelah membaca, gambaran saya buyar, bingung, tidak mengerti maksud dan arah roadmap TIK Indonesia. Continue reading

Konvergensi Menurut Berbagai Sumber

Konvergensi Menurut Berbagai Sumber Konvergensi secara redaksi didefinisikan berbeda oleh berbagai sumber. Tapi secara garis besar merujuk pada satu pointer yang seragam, yaitu integrasi layanan.

European Union (1999)

The ability of different network platform to carry essentially similar types of services and applications.

Kemampuan jaringan dalam berbagai bentuk dalam mengantarkan tipe layanan dan aplikasi yang pada prinsipnya sama.

OECD (Organisation Economic Co-operation Development, 2004)

The processes by which communication networks and services, which were previously considered separate, are being transformed such that: different networks and services carry a similar range of voice, audio-visual and data transmission services, different customer appliances receive a similar range of services and new services are being created.

Proses-proses dimana jaringan komunikasi dan layanan, yang sebelumnya dianggap terpisah, ditransformasikan sehingga: jaringan dan layanan yang berbeda tersebut membawa layanan suara, audio-visual, dan data yang sama. Peralatan konsumen yang berbeda-bedan dapat menerima rentang layanan yang sama dan layanan baru yang sedang dibuat. Continue reading

C-Generation

Convergence is the ability of different networks to carry similar kinds or alternatively, the ability to provide a range of services over a single network, such as the so-called “triple pay”.

C-generation atau C-era pada dasarnya bukan mainan baru. Konvergensi bukan barang baru lagi karena pada kenyataan kita sudah bersentuhan bahkan mengimplementasikan. Handphone bukan sekedar menerima dan mengirimkan teks maupun suara. Tidak hanya smartphone yang bisa memberikan layanan multimedia, handphone biasa-biasa saja pun sudah bisa untuk berkirim gambar, video, atau menonton TV secara real time. Lebih-lebih lagi komputer yang terkoneksi internet. Berbagai layanan bisa tersaji dalam satu platform. Jika era TV digital benar-benar terealisasi, semakin mudah dan banyak saja layanan yang bisa diakses masyarakat.

Namun pada kenyataan, implementasi konvergensi tidak semudah yang dibayangkan. Beberapa negara maju pun cukup sulit mengimplementasikannya seperti Cina, India, Inggris, Amerika, dan Belanda. Karena konvergensi tidak semata-mata penyatuan infrastruktur (become a single network). Harus pula dipikirkan konvergensi di sisi perangkat (C-device), pasar (C-market) yang berarti membahas kompetisi dan tarif, layanan (C- content service), dan regulasi (C-regulation). Permasalahan semacam inilah yang banyak dihadapi negara-negara lain. Justru bukan pada teknologinya.

Piramida Konvergensi

Paradigma di era konvergensi akan berbeda dengan paradigma lama yang berkembang saat ini. Di era konvergensi akan dianut paradigma piramida terbalik, dimana yang berperan besar adalah masalah layanan konten (content services). Konvergensi mengedepankan informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat dengan pilihan yang lebih banyak. Karenanya dibutuhkan layanan konten yang memenuhi kebutuhan akan informasi tersebut. Bayangkan saat ini kita bisa mengakses informasi apa pun, mengikuti social media apa pun, berpartisipasi dalam layanan interaktif apa pun, dan menjual apa pun di internet. Kondisi ini akan dihadapi pula saat IPTV (dan juga TV digital) diterapkan.

Kombinasi layanan melalui single platform semacam ini akan menimbulkan tantangan tantangan lisensi dan regulasi di berbagai sektor ICT. Pada regulasi sebelumnya, sangat jelas perbedaan antara infrastruktur dan layanan, tapi regulasi ini tidak cukup untuk menghadapi era konvergensi dimanan infrastruktur dan layanan merupakan satu kesatuan. Karena itu diperlukan pendekatan perumusan regulasi. Pendekatan yang dilakukan beberapa negara dalam implementasi regulasi konvergensi diantaranya:
1.    legislative approach
2.    regulatory approach
3.    self-regulation approach

Tiap pendekatan memiliki kelebihan dan kekurangan, serta tidak ada satu pendekatan pun yang memberikan hasil optimal. Dalam implementasinya, digunakan lebih dari satu pendekatan atau kombinasi dari beberapa pendekatan.

Roadmap TV Digital di Indonesia

Berdasarkan roadmap konvergensi TIK, direncanakan di tahun 2018, teknologi penyiaran atau broadcasting di Indonesia akan beralih ke teknologi digital. Migrasi di era konvergensi tidak bisa dielakkan lagi. Bahkan sekarang pun, kita sudah berada di era konvergensi meski media-nya masih terbatas. Chatting, email, live music, podvideo, TV viewing sudah bisa dilakukan melalui handphone dan komputer (terkoneksi internet). Di era konvergensi nanti, media lain seperti TV akan bisa memberikan layanan apa pun. Anything to any media.

Persiapan menuju era TV digital untuk sementara ini mengacu pada Permen Kominfo No 32/2009 tentang Penyelenggaraan Penyiaran TV Digital Teresterial. Semakin kecilnya ruang kanal frekuensi yang dimiliki Indonesia, menyebabkan tidak semua permintaan ijin siaran dikabulkan. Setidaknya terdapat 450 pemohon baru yang tidak tertampung sehingga perlu efisiensi penggunaan kanal frekuensi dengan melakukan digitisation, memampatkan kanal frekuensi, untuk menampung pemohon baru.
Kanal frekuensi yang mencukupi, banyak pemohon ijin siaran, diversifikasi industri konten kreatif akan menjadi kolaborasi manis dalam menghadirkan pilihan-pilihan program siaran. Penonton akan dihadapkan pada ragam pilihan yang bisa ia pilih dan ia kontrol dengan sesuka hatinya. Penonton yang pasif akan berubah menjadi penonton yang aktif. Pasive Viewer become interactive viewer.

Tahapan migrasi penyiaran digital dimulai pada tahap uji coba (2008-2009). Untuk sementara telah dilakukan di wilayah Jabotabek. dan penghentian ijin pemohon baru. Dilanjutkan tahap simulcast (2009-2017). Pada tahap ini, penyiaran digital dilangsungkan bersamaan dengan penyiaran analog. Tahap ini direncanakan untuk memberi kesempatan pada masyarakat menyiapkan peralatan penerima digital seperti set-top-box (STB) dengan harga (menurut pemerintah) dapat dijangkau dari pada HDTV yang fully digital. Tahap cut off di tahun 2018 menjadi masa dimana penyiaran analog dihentikan total.

Tentunya pelaksanaan cut-off ini akan berimplikasi luas dan memerlukan kematangan luar biasa. Seperti halnya pada  ketakutan komunitas Pers saat peralihan menuju teknologi digital. Rumor bahwa koran digital akan menggerus koran konvensional, atau paper based newspaper, tidak terbukti kebenarannya. Digital dan konvensional masih bisa berjalan beriringan dalam jangka waktu yang sangat lama. Yah, tidak bisa disamakan medium pengantar TV dan Koran, karena medium TV sangat terbatas (sebenarnya koran juga, tapi bisa didaur ulang). Spektrum frekuensi yang sudah dialokasikan tidak bisa diperluas. Tapi bisa dialih-fungsikan atau dimampatkan.

Dari ragam teknik transmisi penyiaran digital, Indonesia akan memakai teknik DVB-T (Digital Video Broadcast-Teresetrial).  DVB-T banyak diadopsi di negara-negara Eropa, Asia, dan Australia.  Di Eropa sendiri dikembangkan sejak 1988. Negara lain mengembangkan sekaligus mengadopsi teknik ATSC (Amerika), ISDB-T (Jepang), T-DMB (Korea), dan DMB-T (China).

wilayah pengembangan dan adopsi TVD

Roadmap Penyiaran Nasional: 2018, Siaran TV Analog Dihentikan

Indonesia yang majemuk menjadi tantangan bagi integrasi bangsa. Penyiaran nasional merupakan langkah pemerintah menjaga integritas dengan tatanan informasi nasional yang adil dan merata. Penyiaran nasional dinilai mampu mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan, dan menjadikan bangsa yang mandiri.

 

Penyiaran nasional yang mengudara selama ini merupakan siaran analog yang tidak dapat ditangkap secara sempurna di beberapa titik. Terutama daerah terpencil dan perbatasan. Tatanan ekonomi global saat ini telah beralih ke industri dan teknologi digital. Sebagai negara yang mengadopsi teknolog dan bukan memproduksi, mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus mengikuti arus digitalisasi pada setiap perangkat sehari-hari. Termasuk televisi. Tidak selamanya mengadopsi itu buruk akan tetapi proses mengadopsi ini harus diikuti dengan pemahaman akan berbagai aspek kehidupan yang mengikutinya, tidak semata-mata masalah teknologi penyiaran digital.

 

Dalam Roadmap penyiaran nasional, ditargetkan bahwa pada tahun 2018 siaran TV analog dihentikan dan beralih ke siaran TV digital. Proses untuk menuju masa tersebut melalui beberapa tahapan yaitu:

  • Tahap 1. (2009-2012)

– Tahap uji coba, yang telah dilaksanakan

– Penghentian lisensi (perijinan) baru untuk TV analog

– Penyelenggaraaan infrastruktur dan regulasi terkait penyiaran digital

– Penyediaan peralatan penerima TV digital

 

  • Tahap 2. (2013- 2017)

– Penghentian siaran analog di kota-kota besar

 

  • Tahap 3. (2018)

– Periode penghentian siaran analog

 

Kehadiran siaran digital (baik penyiaran TV maupun radio) secara teknologi memberi keuntungan dibanding siaran analog seperti kualitas gambar dan suara yang lebih baik, efisiensi penggunaan frekuensi dan kanal, efisiensi daya pancar, kualitas penerimaan baik dalam kondisi bergerak (mobile). Sedangkan dari sisi ekonomi dapat mendorong pertumbuhan industri konten.

 

Akan tetapi implementasi penyiaran digital akan menimbulkan tantangan baik dari sisi pemerintah sebagai regulator, industri, dan masyarakat. Beberapa hal yang bisa dikaji dari implementasi siaran digital ini antara lain:

  • Faktor penerimaan masyarakat terhadap siaran digital, baik kesiapan secara teknologi, psikologis, ekonomis, maupun budaya.

Dengan tingkat produksi yang masih rendah akan meningkatkan biaya produk. Penyiaran digital membutuhkan set top box (perangkat penerima digital) serta televisi dengan spesifikasi high definition tv (HDTV). Dengan tingkat ekonomi masyarakat saat ini mampukah masyarakat mengkonsumsinya. Siaran TV digital akan berlangsung sepanjang waktu dengan beragam konten, bagaimanakah dampaknya terhadap psikologi masyarakat. Akankah mempengaruhi budaya luhur yang telah tertanam atau akankah memunculkan budaya baru dengan hadirnya media baru ini (new coomon come when new media present)?

  • Faktor penerimaan dan kesiapan industri.

Penyiaran digital akan memaksa industri penyiaran beralih ke teknologi penyiaran digital. Faktor apa yang mempengaruhi industri untuk mengadopsi teknologi penyiaran digital  (technology acceptance research).

  • Faktor Regulasi

Faktor regulasi mungkin menjadi bahasan khusus yang mengatur implementasi penyiaran digital. Penyiaran digital nantinya akan masuk pada ranah konvergensi sehingga kolaborasi antara penyiaran, telekomunikasi, dan internet akan dapat memicu polemik jika tidak disikapi dan dipersiapkan sejak awal.

 

Pertanyaan pada poin-poin diatas merupakan beberapa hal yang bisa dikaji tentang pelaksanaan penyiaran digital dalam rangka mewujudkan tatanan msyarakat berbasis pengetahuan (knowledge based society) – bigina