Berinovasi di INAICTA 2010

Indonesia ICT Award 2009 (INAICTA 2010) adalah ajang lomba karya cipta kreativitas dan inovasi di bidang teknologi informasi dan komunikasi berskala nasional. INAICTA 2010 diselenggarakan komunitas teknologi informasi dan komunikasi di tanah air, dengan dukungan penuh dari Kementerian Komunikasi dan Informatika. Membangun Kreatifitas Digital Untuk Kemakmuran Bangsa Tahun 2010 ini sudah saatnya karya-karya kreatif digital anak bangsa dapat memberikan konstribusi terhadap pertumbuhan ekonomi yang mendukung Pembangunan Nasional untuk kemakmuran bangsa. Maka dengan tagline “Membangun Kreativitas Digital Untuk Kemakmuran Bangsa” diharapkan karya-karya yang lahir dari ajang lomba ini akan mampu menumbuhkan industri kreatif digital lokal yang mampu bersaing di kancah Internasional. Dengan tetap konsisten menargetkan peserta dari kalangan pelajar/mahasiswa, perusahaan dan institusi pendidikan, ajang lomba cipta kreativitas dan inovasi INAICTA 2010 ini menggunakan aturan dan kriteria dengan standar internasional. Hal ini sekaligus mempersiapkan pelaku ICT lokal untuk menghadapi kompetisi global. Pemenang lomba ini juga akan diberi kesempatan untuk mewakili Indonesia di ajang regional dan internasional, seperti Asia Pacific ICT Award (APICTA) dan World Summit Award (WSA)

Kategori yang dikompetisikan yaitu:

  • Professional :

E-government, E-business for enterprise, E-business for SMEs, E-Learning, Digital Animation, Digital Interactive Media, Computer Generated Imagery (2D/3D), tools and infrastructure, research and development, OpenSource application, Digital musi, mobile Application and content.

  • Pelajar

Student project, obstacle robot, maze solving robot

Informasi lebih lengkap, silakan kunjungi www.inaicta.web.id

IDE GILA #1: M-IDENTITY, CHIP IDENTITAS SIMPLE SEPANJANG MASA

KTP dalam bentuk kartu saat ini dinilai sudah ketinggalan jaman dan tidak memberikan kepastian informasi. Tidak sedikit orang yang memiliki lebih dari satu KTP. Jadi ga heran jumlah penduduk Indonesia tidak terdata dengan angka pasti, banyak data pemilih palsu, dan kriminalitas makin luas. Tapi itu cerita lama.

Sekarang pemerintah sedang merubah sistem kependudukan yang lebih nasional dengan Single Identity Number (SIN). Setiap penduduk hanya punya satu nomor identitas saja untuk digunakan banyak keperluan. Nah, ditetapkan penggunaan bentuk KTP baru yang dinilai mendukung tujuan tersebut. Namanya E-KTP. Jadi, di KTP tersebut terdapat chip, persis smart card, yang menyimpan data penduduk bersangkutan. Saat ini baru diberlakukan di 6 lokasi, kota Padang (kec. Padang Selatan),  Kota Yogyakarta (kec. Gondokusuman), Kota Denpasar (Denpasar Barat), Kota Makasar, Kab Cirebon, dan Kab. Jembrana.

Tapi, belum semua instansi menyiapkan sarana pendukung aplikasi ini. Jadi masa efektivitasnya akan masih lama. Dan pastinya anggaran yang diperlukan sangat besar untuk pengadaan, operasi, dan proyek/implementasi.

Saya merasa bahwa Indonesia cukup sering menggunakan teknologi yang sudah usang. Lambat dalam merespon teknologi yang berkembang dan memperkirakan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan kita. Teknologi smart card sudah lama sekali kan munculnya, tapi baru sekarang benar-benar diimplementasikan. Kenapa kita tidak langsung loncat saja menggunakan teknologi baru saat ini, RFID misalnya. Bagi saya yang suka menghilangkan segala kartu, E-KTP tidak ada bedanya dengan KTP sebelumnya.

Saya jadi terpikir ide gila….hehehe… Sepertinya sudah pernah disampaikan orang lain, tapi ga ada salahnya ikut bersuara. Idenya terinspirasi dari penakaran satwa yang dilindungi. Pada tubuh satwa tersebut ditanam chip RFID untuk melacak posisi mereka sehingga mudah terpantau. Kenapa tidak menanamkan chip RFID juga ya ke tubuh manusia, misalnya di lengan. Chip yang berisi identitas penduduk. Gunakan saja jenis RFID yang sangat kecil (jenis dan ukuran RFID bermacam-macam). Kemana pergi selalu dibawa.

Setelah surfing ke sana ke mari, ternyata ada RFID dalam bentuk bubuk, yang disuntikan dalam tubuh manusia. Ukurannya sekitar 0.4 x 0.4 mm, kecil banget gat tuh… Frekuensi yang digunakan 2,4GHz dan kapasitas 128 bit. Masih kecil sih kapasitasnya.

Ide ini pasti menimbulkan dampak postif dan negatif. Sekalian aja saya paparkan kedua dampak tersebut.

Positifnya dulu deh:

  • lebih simple, karena kita tidak perlu membawa bermacam kartu yang peluang hilangnya masih ada. setiap membutuhkan informasi tinggal tembak saja di bagian yang telah distandarkan.
  • peluang penduduk memiliki lebih dari satu identitas semakin kecil, karena begitu ada pengajuan identitas baru petugas tinggal tembak di bagian tubuh tertentu untuk mengecek “sudah terdaftar atau belum”.
  • jika yang bersangkutan mengalami tindak kejahatan, dapat segera diketahui identitasnya. kecuali si pelaku sadisnya tidak hanya memutilasi, tapi mencincang…hiiiiiyyyyy
  • instansi yang membutuhkan kopi identitas, tinggal tembak chip dalam tubuh. data identitas langsung masuk dalam database sisfo.
  • lebih mudah melacak tahanan di rutan. jika ada yang kabur segera diketahui bahkan sebelum tahanan lompat dari pagar. buat saja prisoner security system, logikanya “if prisoner’s position > (gate-5m) than alarm bip bip, else everything is OK”. aman tho
  • lebih mudah melacak buronan/koruptor yang mau kabur. gunakan tracking system dengan radius palcakan yang diperluas. search position= “identity number”. ketahuan deh sembunyi dimana

Nah kekurangannya juga ada 😦 :

  • pasti akan ada banyak pertentangan, terutama dalam hal memasukan benda asing dalam tubuh. baik secara agama, medis, maupun moral. memasukan benda asing dalam tubuh masih belum dapat diterima kecuali diperuntukan bagi penunjang kesehatan seseorang.
  • perlu ada kebijakan yang mengatur instansi yang berhak untuk melakukan proses pembacaan dan pelacakan. Tidak semua penduduk dengan bebas terlacak, kan ga enak kemana-mana dilacak posisi kita. Kecuali mereka yang  terkena kasus hukum telah terbukti, dan telah dikeluarkan surat cekal.
  • Kesiapan sumber daya manusia dalam mengelola teknologi yang tergolong baru ini. Dengan teknologi sekarang aja kita belum siap, bagaimana dengan teknologi terbaru seperti ini.

Yah, ni cuman ide gila saya. Tapi siapa tahu bisa terwujud ya…..entah kapan tahun. Atau kalau tidak ditanamkan dalam tubuh, dalam bentuk kartu seperti sekarang ini juga tidak masalah. Mau lebih unik, berbentuk gelang, gantungan kunci…hehehe… lain dari yang lain. Ga dilarang berimajinasi kok.