Halo Matahari…Cantik di Awal Tahun

Antara jam 11.00 – 11.30 kemarin, ada pertunjukan menarik di langit, Halo matahari. Halo ini dapat dilihat di beberapa wilayah di Jawa Tengah, termasuk Yogya. Lingkaran penuh terlihat mengelilingi matahari sebagai pusatnya. Cantik. Sayang, awan putih di salah satu sisi menyebabkan lingkaran tidak terlihat sempurna.

Halo Matahari, tertutup awan putih

 

Halo matahari, subhanallah...cantiknya kamu

HappY NeW YeaR….TahuN KelincI NekaT

Beberapa jam lagi, tahun 2011 datang.

Alhamdulillah, 2010 terlewati dengan cukup manis. Ada hambatan disana sini, tapi jalan terus pantang mundur. Waktu tidak mau diajak mundur. Tidak berasa berlalu begitu cepat pada beberapa peristiwa dan berasa lamaaaaaa di peristiwa yang lain. Seperti kata Umar Kayam, waktu tuh molor mengkerut. …..bisa cepat bisa lamaaaaa juga tergantung kita mempersepsikannya.Β  Alhamdulillah juga, beberapa resolusi terlaksana. Beberapa, karena malas, tidak semangat,Β  bahkan lupa kalau buat resolusi itu…hehehe…jadinya tidak terlaksana deh.

Bagaimana 2011? Masih ada resolusi lanjutan. Disebut tahun apa ya 2011? Tahun menulis? Tahun go national? Tahun optimis? Ahhh…..saya ingin menamakannya Tahun Nekat saja…hehehehe…

Tentang aktivitas nge-blog di 2011…sepertinya harus tobat nasuha…tiada ampun buat aktivitas nge-blog 2010 yang tidak konsisten….hehehehe…

So, Happy NEw Year ALL……..

RUU Konvergensi, Belum Konvergen

RUU Konvergensi Telematika akhirnya dipublikasikan juga. Kemunculannya menjelang akhir tahun mengindikasikan bahwa pembahasan RUU di DPR akan molor. Seharusnya, menurut agenda, tahun ini DPR sudah membahasnya bersama RUU Tindak Pidana TI dan revisi RUU Penyiaran. Tampaknya negara ini belum bisa meninggalkan kebiasaan bermolor-ria-nya.

Merujuk definisi konvergensi dari European Union, OECD, ITU, konvergensi dapat dipandang sebagai perpaduan layanan telekomunikasi, teknologi informasi, dan penyiaran yang sebelumnya terpisah menjadi satu kesatuan hingga diperoleh nilai tambah dari layanan tersebut. Selengkapnya baca disini. Artinya bahwa, layanan telekomunikasi, teknologi informasi, dan penyiaran yang awalnya terpisah dengan regulasi yang terpisah pula akan dipadukan baik dari sisi layanan maupun regulasinya. Dengan demikian, akan ada perpaduan antara UU Telekomunikasi, UU ITE, dan UU Penyiaran. Menyatukan berbagai layanan bahkan regulasinya bukanlah perkara mudah. Meskipun ada panduan yang bisa dirujuk baik dari OECD melalui ICT Regulation Tool Kit-nya maupun ITU, tidak bisa diimplementasikan secara mentah-mentah di Indonesia yang sangat majemuk ini. Setidaknya, itulah gambaran awal saya tentang RUU Konvergensi Telematika ini. Namun, setelah membaca, gambaran saya buyar, bingung, tidak mengerti maksud dan arah roadmap TIK Indonesia. Continue reading

Mendadak Takjub: TKW Nge-Blog

“kalo tkw ngeblog, dah lama tau” (YM seorang teman)… Buat saya baru, dan luar biasa!!!

Berapa banyak blog yang terekam di benak Anda? Yang menginspirasi, yang paling sering dikunjungi, yang link-nya hapal luar kepala tanpa perlu gugling untuk mengingat-ingat, yang membuat tertakjub-takjub. Sejak awal, saya suka mengunjungi blognya Trinity di Naked-Traveler. Alasan sederhana, pengalaman traveling-nya yang dinarasikan benar-benar menarik dan bikin iri.

Pagi tadi saya baru buka detik-inet. Pojok yang paling sering saya plototin adalah pemenang mingguan Internet Sehat Blog Award (ISBA). Untuk sekali ini saya benar-benar mendukung pilihan juri. Salah satu pemenang adalah blog milik mbak Rie Rie, seorang TKW di Hongkong. What??? TKW nge-blog??? Luar biasa!!! Langsung saya ke TKP dan semakin takjub dengan tulisannya mba Rie Rie. Continue reading

Facebook: Lahan Subur Online SHop

Facebook semakin merajalela. Akun pengguna telah menembus angka ratusan juta dan tampaknya akan terus membengkak. Meski kita tahu, satu orang bisa memiliki lebih dari satu akun. Saya sendiri punya dua akun… :). Satu hal yang sangat menarik dari perkembangan Facebook adalah semakin banyak perusahan berbagai skala memanfaatkan Facebook sebagai alat marketing. Angkanya mencapai 30 juta akun!!!! (Jawa Pos, 12 Okt ,10)

Kondisi ini dipicu dengan semakin familiarnya e-commerce. Kesibukan, jadwal yang padat, gaya hidup, serba praktis, dan pilihan yang beragam bisa menjadi pemicu orang tertarik pada online shop. Kita tinggal mengunjungi online shop, lihat-lihat produk, bandingkan harga, tanya dan tawar menawar, transaksi, dan barang langsung dikirim. Tidak repot dan tidak capek. Sebenarnya gaung e-commerce sudah ada sejak awal tahun 2000-an, namun tidak sesukses sekarang. Saat itu koneksi dan infrastruktur internet belum memadai, mahalnya sewa domain dan hosting, susahnya membangun website, jejaring sosial belum populer, transaksi e-banking dan m-banking belum familiar, dan yang terpenting “TRUST” belum ada.

Bandingkan dengan masa kini, bertaburan online shop dengan anekaragam produk. Menurut saya, setidaknya ada dua bentuk online shop, yaitu webshop dan netshop. Apa bedanya? Kalau webshop, basis online-shop-nya adalah website, baik yang profesional dengan domain dan hosting berbayar maupun yang berbasis webblog. Bisa dikatakan webshop adalah generasi pertama online shop. Sedangkan netshop, basis online-shop-nya adalah jejaring sosial (social netwrok), yang paling terkenal ya Facebook. Tentunya ada kelebihan dan kekurangan masing-masing. Berikut adalah kelebihan dan kekurangannya berdasarkan pengalaman saya membuat kedua bentuk online shop ini. Continue reading

What a nice discussion… :)

Diskusi tidak selalu dengan bertatap muka. Hadir bersama dalam satu waktu dan satu ruang. Perbedaan ruang dan waktu tidak menjadi hambatan bagi siapa pun untuk berdiskusi. Skype, YMessenger, Gtalk, FB Discussion, Koprol, Buddy, dan masih banyak lagi, bisa menjadi tempat diskusi yang asyik. Lebih dari sekedar chat biasa. Asyiknya diskusi live ini adalah, banyak link yang bisa kita gunakan untuk mencari referensi. Sambil chat-disc, kita bisa mencari referensi untuk mencari kebenaran. Ingat, mencari kebenaran. Apakah yang kita atau partner kita sampaikan benar atau tidak. Berdasarkan apa. Apa referensinya. Sehingga diskusi semacam debat kusir bisa dihindarkan.

Saya menuliskan ini berdasarkan pengalaman. Betapa diskusi menjadi arena yang tidak menyenangkan tatkala satu pihak memojok pihak yang lain dan haqqul yaqin apa yang disampaikan benar, sedangkan orang lain salah. Jika sudah begini, saya lebih senang ambil handphone, browsing, dan sampaikan padanya…”Menurut teori A, ini bla bla bla….sedangkan menurut teori B, blablabla…jadi kesimpulannya..blablabla..” Setidaknya bisa mengurangi waktu berpanjang-panjang untuk debat yang tidak efektif. Bukankah diskusi untuk mencari kebenaran, bukan mendebat. Atau kebanyakan mengatakan “dibantai”. Wuihhh…kata-katanya, kejammm…. πŸ™‚

Kemarin saya baru saja diskusi dengan teman lewat Ymessenger. Dia di Jakarta, saya di Yogyakarta. Sebelumnya, teman saya minta tolong mengolah data. Sebenarnya dia salah sasaran, saya tidak tahu banyak tentang teori regresi, multivariat dan sebagainya. Kalau cuman mengolah saja…cincailahhhhh….tinggal klak-klik, input sana-sini. Tapi yang pentingkan formula dasarnya yang kerap kali kita lupakan. Apalagi kalau sudah software yang memudahkan pengolaha, semakin lupalah kita dengan teori dasarnya. Ternyata, teman saya tipe yang kritis dan tidak mau terima jadi. Begitu hasil saya serahkan, segera dia tanya-tanya, cari bukunya, mencoba olah sendiri, dan traraaaaa……berdiskusilah kita karena hasil pengolah kita sama tapi ada poin yang berbeda. Teman saya berpanduan pada buku yang dia gunakan, saya juga keukeuh dengan buku yang saya gunakan. Sepertinya ketikan jari di keyboard tidak sanggup menyeimbangkan kata yang mau diluncurkan…asyik banget.

Merasa sama-sama tidak yakin dan tidak puas, akhirnya saya chat-disc sambil browsing. Dan ternyata….kami mengolah data dengan perspektif yang berbeda, dan kedua-duanya benar. Ibaratnya, saya pegang setengah potongan dan teman saya memegang potongan yang lain. Betapa bodohnya kami….karenanya perlu selalu diskusi dan browsing ( yang bener..:) ) untuk memperkaya wawasan. What a nice discussion… miss u my friend... πŸ™‚