Repost Blogging Style

Saya baru saja dolan ke blognya Romi Satrio Wahono. Dapat ilmu baru dan sentilan tentang per-gaya-an nge-blog. Ilmu baru karena saya baru tahu nge-blog itu ada style-nya. Setiap blog mempunya style masing-masing dengan tingkat kesulitan yang berbeda. Saya kira style blog itu adalah apa tema khusus yang diangkatnya terlihat dari posting yang disajikan. Dan umumnya terkait dengan kesukaan masing-masing blogger. Ternyata tidak.  Setidaknya ada 20 gaya nge-blog yang disampaikan Pak Romi. Setiap gaya memiliki tingkat kesulitan masing-masing, dari yang mudah banget sampai yang sulit banget.

20 gaya nge-blog yang dimaksud Pak Romi yaitu

  • Insight blogging
  • Ambition blogging
  • Piggyback blogging
  • Life blogging
  • Brand blogging
  • Detractor blogging
  • Announcement blogging
  • Link blogging
  • Video blogging
  • Photo blogging
  • Review blogging
  • Evangelist blogging
  • List blogging survey blogging
  • Repost blogging
  • Guest blogging
  • Interview blogging
  • Event blogging
  • Live blogging
  • Dan classified blogging

Saya tidak akan mendeskripsikan ke-20 gaya tersebut karena Pak Romi sudah sangat lihai menjelaskannya. Baca di sini deh.

Yang saya mau bahas adalah masa gaya Repost  Blogging. Repost means re-posting anythings form any blogs or sites to yours. Menurut Pak Romi, sebagai blogger sebaiknya menghindari gaya nge-blog seperti ini karena akan menurunkan brand blog kita. Apa sebabnya, karena kita cuman mem-posting kembali apa pun yang berasal dari blog atau site orang lain. Ada kalanya pemilik blog menambahkan komentarnya ada kalanya cuman copy-paste.

Nah, bagian inilah yang membuat saya tersentil.

Beberapa posting saya akui merupakan copas dari site lain. Walaupun saya menuliskan sumbernya beserta link menuju site tersebut tetap sebaiknya dihindari. Me-repost dari blog/site lain bisa merancukan style kita sendiri karena gaya penulisan kita bisa jadi berbeda dengan sumber. It’s not me. Saya melakukan repost karena berbagai alasan:

  • Merasa bahwa tulisan tersebut sangat bagus untuk disebarluaskan
  • Merasa bahwa tulisan tersebut berkaitan dengan tema besar blog saya
  • Berada pada kondisi tidak tahu harus posting apa.

Alasan ketiga amat sangat tidak layak. Saya perlu introspeksi pada tujuan membuat blog dan tema besar yang saya pilih.  So, mulai sekarang berusaha untuk menghindari gaya posting semacam ini. Dan kalau pun harus me-repost harus dibarengi dengan komentar dari sudut pandang kita. It’s would be valuable, isn’t?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s