Monumen Pers, Solo

pemutar pita kaset

Long weekend yang lalu saya iseng-iseng main ke Monumen Pers (MP), Solo. Alasan sederhana saja, sudah lima tahun di Solo saya belum pernah ke sana. Seperti Monas di Jakarta. Rasanya belum sah jadi warga Solo kalau belum ke Monumen Pers…menurut sayaaa.

Kebetulan di MP sedang ada pameran mendukung deklarasi Hari Penyiaran Nasional (HarSiarNas) jadi sekalian cari tahu. Deklarasinya sendiri dilaksanakan di Pendapi Gede Balaikota Solo tanggal 1 April. Pas April Mop…(halah…masih memperingati begituan). Penggagas deklarasi ini adalah Heru Wiryawan. Menurutnya, penyiaran memiliki andil yang sangat besar bagi kemajuan Indonesia terutama pada masa-masa perjuangan. Maka pantas rasanya jika diperingati hari khusus penyiaran.

pemancar radio kambing

Kalau melihat apa yang dipamerkan di MP, saya rasa wajar jika diadakan hari khusus penyiaran. Semangat perjuangan dikobarkan melalui udara. Lagu-lagu perjuangan disiarkan melalui radio-radio buatan Jerman, Inggris, maupun Belanda (tidak ada buatan Indonesia ya..😦 ). Bahkan ada pemancar radio yang disembunyikan di kandang kambing di desa Balong, Gunung Lawu, hingga disebut Radio Kambing. Pemancar terpaksa disembunyikan karena stasiun RRI di Solo diserang oleh tentara Belanda. Disetuji atau tidaknya HarSiarNas, saya rasa penyiaran nasional tetap perlu mendapatkan apresiasi sekaligus otokritik dalam membangun bangsa.

Kembali ke MP.

Apa yang saya lihat dan baca tidak sesuai ekspektasi. Agak kecewa juga. Saya pikir MP akan memamerkan perkembangan komunikasi dan informatika di Indonesia dari masa ke masa. Hingga saat ini. Jika dititiberatkan pada bidang pers, maka dipamerkan perkembangan pers Indonesia dari titik awal hingga saat ini. Mulai dari teknologinya, bentuknya, seperti sebuah timeline. Indonesian Journalist Timeline. Sayangnya yang saya lihat, pers masa lalu. Masa sebelum dan beberapa tahun setelah kemerdekaan. teknologi pers yang bisa saya lihat di Pasar Barang Antik Windujenar.

Padahal jika melihat visi misinya, MP yang tergabung dalam Sarana Komunikasi dan Diseminasi Informasi (SKDI) ini menginformasikan perkembangan komunikasi dan informasi dari masa ke masa. Bukan hanya dari masa lalu. Tidak tahu ya apa yang ditampilkan instansi serupa MP di TMII, mungkin sesuai visi misi SKDI. Saya belum pernah kesana.

Jika dibuat konsep seperti Digital Media City (DMC), Korea, akan lebih bagus. Disana dipamerkan perkembangan teknologi komunikasi dan informatika di Korea sejak awal penemuan teknologi, saat ini, hingga impian masa datang mereka. Benar-benar technology timeline. Konsep ini menjadi media pembelajaran yang cukup efektif bagi siapa pun yang ingin mengetahui perkembangan teknologi kominfo di Indonesia.

Sebenarnya di Taman Pintar, Yogyakarta, ada. Sayang informasinya kurang menggigit. Space-nya kecil banget.

4 thoughts on “Monumen Pers, Solo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s