E-Democracy : MARKETING POLITIK CERDAS BAGI CALON LEGISLATIF

PEMILU 2009 tinggal hitungan hari, tidak sampai dua bulan rakyat Indonesia dihadapkan pada puluhan partai politik dan calon legislatif (caleg) yang menentukan napas hidup rakyat selama lima tahun kedepan. Salah mencontreng dalam hitungan menit berarti petaka dalam hitungan tahun. Sistem Pemilu di Indonesia telah menerapkan pemilihan wakil rakyat secara langsung sejak 2004. Warna-warni wakil rakyat saat itu bukan sepenuhnya pilihan rakyat karena penentuan daftar urut caleg oleh parpol menetapkan mereka benomor kecil berhak masuk dalam gedung rakyat terlepas baik-tidaknya kompetensi yang dimiliki. Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) merubah system tersebut dimana sistem daftar urut tidak lagi berlaku. Caleg pun dibuat harus susah payah olehnya untuk merebut simpati rakyat dan menjadikan peluang masuk ke gedung rakyat sama besarnya. Ramai-ramai caleg memperkenalkan dirinya di sudut-sudut jalan, di perempatan, di tiang-tiang listrik, di dinding-dinding kumuh jalanan, di jembatan, dan di pohon-pohon, melalui baliho, spanduk, pamflet, stiker, dan apa pun yang dapat menebarkan pesona dirinya.
Alat peraga kampanye caleg tersebut tidak dilarang, boleh saja dipasang untuk mengkampanyekan dirinya dalam media apa pun sepanjang tidak meyalahi aturan Pemilu dan peraturan daerah. Sistem yang berlaku saat ini menjadikan caleg tidak hanya bersaing dengan caleg dari parpol lain tetapi juga intern parpol sehingga marketing politiknya harus lebih kencang jika ingin memperoleh suara terbanyak. Mendekati hari-H persaingan antar caleg pun kian panas, sosialisasi diri yang tidak rasional hingga perusakan atribut kampanye menjadi segelintir masalah yang membuat gerah. Pengajar Fisipol UGM, Ari Sujito, menengarai fenomena persaingan antar caleg ini merupakan dampak dari keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) akibatnya alat peraga caleg cenderung lebih dominan ketimbang parpol (Suhu Politik Mulai Memanas, Kedaulatan Rakyat, hal. 7, tanggal 16/2-2009). Dan yang cukup menyedihkan adalah tidak ada caleg yang memaparkan visi dan misi mereka. Apa yang akan mereka lakukan selama lima tahun kedepan? Apa prioritas agenda mereka? Kapabilitas apa yang mereka miliki untuk mengurai benang kusut problematika negara dan masyarakat sehingga mereka patut dipilih? Yang ada hanyalah foto-foto caleg dalam berbagai busana dan pose yang hampir menyaingi model majalah. Suatu sikap yang dikenal remaja sebagai sikap narsis.
Aksi narsitik para caleg sulit untuk dicegah karena melibatkan kekuatan uang dan harapan besar untuk terpilih. Sepanjang anggaran ada dan terus mengalir, caleg akan semakin gencar memasarkan dirinya. Tidak sedikit dana yang harus dikeluarkan oleh caleg, untuk ke studio foto demi memperoleh imej karismatik, cetak sablon, pajak pemasangan baliho terutama bagi daerah yang mengeluarkan Perda Reklame, menyebarluaskan, hingga hadiah kecil-kecilan bagi konstituen dalam bentuk sembako, uang, atau apa pun. Aksi penggerusan dana ini akan semakin meningkat menjelang masa kampanye, waktu tenang, hingga syukuran bagi yang terpilih. Lalu darimana dana tersebut mengalir karena jelas parpol tidak menyediakan. Uang pribadi sepertinya tidak mencukupi, maka meminjam adalah jalan keluarnya. Maka tak heran lembaga keuangan mulai berhati-hati mengucurkan dana kredit bagi caleg karena resiko yang ditanggung cukup besar, terutama jika gagal menjadi anggota legislatif (aleg) (Pegadaian Tak Beri Syarat Bank Hati โ€“ hati Pinjami Caleg, Kedaulatan Rakyat, hal. 6, tanggal 17/2-2009). Besarnya dana yang dikeluarkan harus disikapi caleg dengan persiapan mental yang kuat untuk kalah dan untuk menang. Jangan sampai depresi karena kalah dan menyisakan hutang yang tidak sedikit. Dan jangan pula pongah karena lebih memilih mengembalikan modal ketimbang melaksanakan fungsi sebagai wakil rakyat.
Sebenarnya ada langkah yang lebih mudah, murah, dan cukup efisien dalam marketing politik para caleg. Aksi narsistik caleg yang kurang mendidik rakyat dapat diredam dengan sistem meritokrasi (Hemat Dwi Nuryanto, http://www.hdn.zamrudtechnology.com). Meritokrasi merujuk pada suatu bentuk atau proses promosi atau pencalonan pemimpin dengan memberikan kesempatan dan penghargaan kepada mereka yang berprestasi atau berkemampuan. Pelaksanaan meritokrasi dilakukan sesuai dengan perkembangan jaman. Dengan adanya konvergensi TIK, proses meritokrasi dapat dilakukan melalui saluran-saluran TIK. Belajar dari kesuksesan politisi negara lain, proses marketing dilakukan melalui dunia maya melalui situs pribadi berbayar maupun gratisan. Saat ini beberapa anggota dewan mulai mempublikasikan agenda politik mereka selama menjabat wakil rakyat melalui facebook maupun situs pribadi, sebut saja Aria Bima dari PDIP. Membangun situs untuk marketing politik bukan perkara yang rumit apalagi dengan berkembangan teknologi Web 2.0 (hingga kini dirilis Web 2.7) atau web blog caleg dapat mempromosikan diri sesuka hati. Murah dan cukup efisien.
Beragam web blog gratis dapat digunakan, sebut saja wordpress, blogspot, blogger, multiply, weebly. Atau yang lebih suka menampilkan foto diri dan aktivitas gunakan saja flickr, picassa, ataupun youtube. Dan bagi yang suka membuat jejaring politik (politic networks) serta menghimpun penggemar aktifkan saja Friendster, MySpace, Facebook, Plurk atau jejaring sosial lainnya. Kemudahan aktifasi dan aplikasi tidak akan menyulitkan caleg untuk mempromosikan diri melalui dunia maya karena situs tersebut kini menyediakan aplikasi berbahasa Indonesia. Sayangnya penetrasi internet di Indonesia masih rendah sehingga caleg mugkin enggan menggunakannya karena sifat penyebaran yang tidak luas. Baiklah, tetapi bukan berarti jalan tertutup bagi kampanye cerdas dan murah. Silahkan menggunakan media pesan singkat (SMS) untuk kampanye, boleh dan tentu saja legal karena telah diatur dalam PerMen Kominfo No. 11/Per/M.Kominfo/2/2009 tentang Kampanye Pemilihan Umum Melalui Jasa Telekomunikasi. Kampanye Pemilu melalui jaringan telekomunikasi merupakan bagian dari pendidikan politik rakyat yang dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Media lain yang dapat digunakan oleh para caleg adalah radio komunitas, murah dan tepat sasaran karena market-nya lebih jelas.
Dengan pemanfaatan saluran-saluran telekomunikasi, caleg dapat tebar pesona dengan biaya murah dan lebih fokus menjaring massa ketimbang tebar baliho. Selain kurang fokus pada sasaran konstituen yang dianggap loyal juga rawan terhadap pengrusakan oleh oknum yang tidak senang. Sudah saatnya para caleg melaksanakan kampanye cerdas bagi rakyat yang tidak hanya menampilkan pesona diri dengan jargon-jargon yang kurang rasional tanpa adanya misi yang jelas. Rakyat menantikan kiprah nyata caleg dalam mengaktualisasikan kinerjanya dalam lima tahun kedepan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s