Balance Score Card Matrix IT/IS

Lanjut dari tulisan sebelumnya, metode pengembangan analisis biaya manfaat (benefit cost analysis) dalam IT/IS Benefit Matrix dapat dikelompokkan pada beberapa kategori. Pengelompokkan berdasarkan metode Balanced Scorecard  mengidentifikasikan keuntungan dari EQT, HQT, EQI, dan HQI dalam empat kategori keuntungan. Yaitu keuntungan Financial Benefit, Quality of Services Benefit, Internal Management Benefit, dan  Cutomer Perception Benefit.

  • Financial Benefit. Keuntungan financial sangat mudah diukur nilainya atau berpengaruh langsung pada profit perusahaan. Keuntungan dari sisi finansila yang dapat terukur diantaranya:
    • Penurunan biaya akibat kesalahan (failure cost)
    • Peningkatan perolehan keuntungan perushaan (revenue cost)
    • Penurunan biaya operasional (operational cost)
  • Quality of Services Benefit
    • Peningkatan waktu tanggap pelayanan (time responenses)
    • Peningkatan antar muka konsumen dan perusahaan (interface services)
    • Peningkatan pemanfaataan sumber daya (resources advantages)
  • Internal Management Benefit
    • Peningkatan keunggulan kompetitif dan analisis kompetisi (competitive analysis)
    • Peningkatkan  produksi (production management)
    • Peningkatan pengambilan keputusan (decision  making analysis)
    • Peningkatan kepercayaan pegawai (official trust)
    • Peningkatan citra perusahaan (company brand image)
  • Cutomer Perception Benefit
    • Peningkatan hubungan perusahaan dan konsumen (customer relationship)
    • Peningkatan persepsi pelanggan terhadap perusahaan (customer perception)
    • Peningkatan kepercayaan konsumen (customer trust)

balance scorecard matrix IT/IS

Mahkamah Konstitusi: E-Voting Jembrana Sah

Mahkamah Konsitutusi (MK) memutuskan memperbolehkan pemilihan umum dengan sistem elektronik atau E-Voting. MK menilai, sistem E-Voting bisa menjadikan pemilihan lebih efisien, efektif, meminimalkan dugaan pelanggaran, serta meningkatkan kualitas pemilihan umum. Putusan tersebut ditetapkan tanggal 30 Maret 2009.

Dalam putusannya, MK menyatakan bahwa e-voting adalah konstitusional dan dapat dilaksanakan sepanjang tidak bertentangan dengan asas-asas Pemilu yang luber dan jurdil. Meskipun demikian, pelaksanaan e-voting harus berdasarkan pertimbangan objektif yaitu kesiapan penyelenggara pemilu, masyarakta, sumber dana dan teknologi, serta pihak lain yang harus dipersiapkan dengan matang serta memenuhi syarat kumulatif yaitu:

  1. Tidak melanggar asas luber dan jurdil
  2. Daerah yang menerapkan metode e-voting sudah siap dari sisi teknologi, pembiayaan, sumber daya manusia, perangkat lunak, kesiapan masyarakat daerah bersangkutan, dan persyaratan lain yang diperlukan.

Hadirnya putusan ini bermula dari permohonan uji materi Bupati Jembrana, Bali, I Gede Winasa dan 20 kepala dusun di kabupaten tersebut terhadap Undang-Undang Pemerintah Daerah, terutama Pasal 88. Selama ini, Kab. Jembrana telah berulang kali melaksanakan pemilihan kepadala dusun secara e-voting seperti di dusun Samblong Desa Yeh Sumbul Kecamatan Mendoyo Jembrana. Pelaksanaan e-voting terbukti berjalan lancar tanpa adanya ketidaktertiban dan pelanggaran sehingga kemudian e-Indonesia menganugrahkan E-Goverment Award pada kabupaten ini. Kabupaten tersebut juga telah menerapkan e-KTP atau KTP yang telah terintegrasi dengan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK). E-KTP tersebut mendukung pelaksanaan e-voting dimana tidak diperlukan lagi surat pemberitahuan terdaftar dalam daftar pemilih, undangan, dan tanda bahwa telah memberikan pilihan.

Latar belakang pelaksanaan e-voting di Kab. Jembrana adalah adanya permasalahan yang timbul pada sistem konvensional yaitu banyak pemilih tidak terdaftar, kesalahan dalam memberi tanda pada kertas suara yang berakibat pada ke-tidaksah-an suara, proses pengumpulan kartu suara berjalan lambat, prose penghitungan suara berjalan lambat yang berakibat pada keterlambatan tabulasi suara, akurasi tabulasi suara kerap salah, dan kurang terjaminnya kerahasiaan dari pilihan seseorang.

Dari permasalahan tersebut dilaksanaka e-voting yang melalui dua tahapan yaitu:

  1. Verifikasi pemilih, yang memastikan bahwa pemilih terdaftar di DPT. Proses verifikasi cukup dilakukan dengan men-scan KTP yang telah tertanam chip RFID (Radio Frequency Identification) untuk memastikan bahwa pemilih adalah warga terdaftar dan belum memberikan pilihannya.
  2. Voting atau pemilihan

Alur pelaksanaan seperti gambar berikut.

(sumber Kab. Jembarana)

Meskipun canggih, pemerintah Kab. Jembrana mengatakan bahwa masih ada beberapa kelemahan pada sistem ini yang masih terus diperbaiki dan dikembangkan. Permasalhan yang dihapapi diantaranya tingkat keamanan sistem yang digunakan saat ini (e-voting Kab. Jembrana menggunakan Diebold System), penggunaan internet yang rentan terhadap cracker, dan penggunaan software yang belum dapat diaudit sehingga muncul kekhwatiran manipulasi hasil pemungutan.

Dengan adanya keputusan MK dan Undang-Undang ITE diharapkan dapat mendukung pelaksanaan e-voting yang scalable, accuracy, auditable, dan secure.

Mengukur Kualitas Informasi

Saat menganalisis dan merancang sistem informasi, sering sekali ditanya tentang kualitas informasi. Bahkan termasuk dalam tujuan utama yang ingin dicapai tiap kali merancang sistem informasi. Bukan pada kecanggihan sistem, interface yang bagus, atau kompleksitasnya. Sistemnya canggih, interface menarik, kompleks akan menjadi percuma kalau informasi yang dihasilkan tidak berkualitas. Bukankah data-data yang diproses dalam sistem bertujuan untuk menghasilkan informasi yang berkualitas sesuai harapan dan kebutuhan user.

Sebenarnya apa ya kualitas informasi atau quality of information?

Informasi yang berkualitas menunjukkan bahwa informasi yang disajikan sesuai dengan harapan dan kebutuhan user berdasarkan dimensi kualitas informasi. Nah, apalagi tuh dimensi kualitas?

Dimensi kualitas bisa disebut sebagai syarat sebuah informasi dikatakan berkualitas dilihat dari beberapa sudut. Menurut James O’Brien dalam bukunya System Analysis and Design Method, ada 3 dimensi kualitas informasi yaitu dimensi waktu informasi (time dimension), dimensi konten informasi (content dimension), dan dimensi bentuk informasi (form dimension). Karakteristik dalam dimensi ini adalah pilihan analis sistem informasi. Tidak semua harus masuk tapi disesuaikan dengan kebutuhan.

Time Dimension (dimensi waktu informasi). Informasi dikatakan berkualitas jika

  • Currency alias Up to date. Informasi yang disampaikan tepat waktu. Buat sistem informasi yang menyajikan informasi basi. Tidak bisa digunakan apalagi untuk mengambil keputusan. Informasi yang tersaji cepat akan memuaskan pengguna dan mendukung pengambilan keputusan. Akan lebih baik lagi jika real time ya.
  • Timeliness alias tersedia kapan saja user membutuhkan. Artinya informasi tersedia kapan pun user menginginkannya. Pagi, siang, sore, bahkan tengah malam. Mungkin yang saat ini lagi dikembangkan adalah aplikasi sistem informasi via handphone (mobile application).
  • Frequency yang berarti informasi tersedia dalam periode waktu tertentu. Agak mirip-mirip dengan kategori up to date.

Content Dimension (dimensi konten informasi)

  • Accuracy. Jelas bahwa informasi yang tersedia akurat, bebas dari kesalahan sehingga tidak menjerumuskan user dan berakibat salah dalam mengambil keputusan.
  • Relevance. Nah, informasi yang tersedia sesuai dengan business core atau kebutuhan user. Jangan sampai informasi yang tersedia tidak dibutuhkan user. Sia-sia kan.
  • Conciseness. Dimaksudkan bahwa informasi yang disajikan diperlukan oleh user. Misal informasi prakiran cuaca, user membutuhkan suhu sekarang berapa, akan hujan atau tidak, berapa kecepatan angin, layak tidak untuk berlayar. Jangan diberi informasi kepadatan lalu lintas. Kan jadi ganyambung.com.

Form Dimension (dimensi bentuk informasi)

  • Kalau bentuk informasi adalah cara bagaimana informasi tersebut sampai ke user. Media apa yang sebaiknya digunakan. Apakah sistem informasi stand alone atau yang online. Bisa diakses melalui apa, televisi, radio, komputer, layar lebar (seperti di jalan-jalan), atau melalui ponsel. Pilihan-pilihan ini dikembalikan lagi pada kebutuhan sistem berdasarkan hasil analisis permasalahan saat ini.

Moga bermanfaat :D.

Template Perhitungan Cost Benefit Analysis

Masih tentang analisis biaya dalam desain sistem informasi. Baru bisa posting sekarang.

Ketika merancang desain sistem informasi, salah satu aspek kelayakan dalam implementasi adalah kelayakan ekonomi. Aspek kelayakan lain yang mesti dianalisis adalah kelayakan teknis, kelayakan operasional, kelayakan jadwal, dan kelayakan hukum.

Dalam aspek kelayakan ekonomi, perlu diperhitungkan biaya investasi yang dikeluarkan dan biaya manfaat atau keuntungan yang akan diperoleh.  Biaya investasi atau biaya tetap adalah biaya-biaya yang ada dalam desain sistem informasi yaitu biaya pengadaan, biaya persiapan operasi,dan biaya implementas. Juga terdapat biaya tidak tetap yang diperhitungkan setiap tahunnya. (baca: analisis desain sistem informasi).

Salah satu uraian dalam biaya pengadaan adalah pengadaan perangkat keras. Tidak bisa asal menentukan jenis dan jumlahnya. Tergantung pada desain yang kita rancang. Nah, sebelumnya perlu dibuat rancangan topologi jaringannya untuk memperhitungkan berapa server yang diperlukan, workstation, jenis jaringan, dan peripherals lainnya. Contoh uraian biaya perangkat keras bisa di download di sini.

Kemudian baru bisa dirumuskan uraian biaya investasinya.

Hal yang cukup rumit adalah analisis biaya manfaat  atau perhitungan keuntungan yang diperoleh jika sistem diimplemetasikan. Karena selain tangble cost juga terdapat intangibles cost yang sulit diukur. Maka cara yang digunakan adalah merumuskan perkiraan peningkatan transaksi yang dilakukan oleh konsumen.

Download Free:

template perhitungan uraian biaya pengadaan hardware
template perhitungan cost analysis
template perhitungan cost benefit

Analisis Biaya Desain Sistem Informasi (Part #2)

Lanjut sesi tentang analisis biaya yang lalu ya.

Salah satu komponen yang harus diperhitungkan sejak awal dalam desain dan implementasi sistem adalah komponen biaya. Komponen biaya sendiri terbagi dalam beberapa bagian : biaya pengadaan (procurement cost), biaya persiapan operasi (start-up cost), biaya proyek (project cost), dan biaya operasi serta perawatan (ongoing and maintenance cost). (baca lagi part#1)

Sebelum menguraikan tiap komponen biaya, kita perlu menentukan besaran index inflasi. Kenapa? Karena ini berkaitan dengan biaya yang akan dibayarkan untuk tahun-tahun selanjutnya. Nilai saat ini akan berbeda dengan nilai tahun berikutnya (x+1). Besarnya index inflasi bisa diasumsikan atau kalau mau lebih akurat bisa cek di web depkeu. Dalam kondisi normal umumnya menggunakan besaran 6-8%.

Setelah mengasumsikan nilai index inflasi, boleh deh lanjut ke uraian komponen biaya. Ini bisa dijadikan contoh.

1. Biaya Pengadaan. Dihitung pada tahun ke-0 atau sebelum sistem informasi diimplementasikan. Contoh biaya pengadaan:

• Biaya pembelian hardware : server, PC, switch, hub, kabel data, printer, scanner, fax, dll
• Biaya instalasi hardware : diperhitungkan meski yang meng-instalasi adalah pihak internal perusahaan. Istilahnya honor buat petugas instalasi
• Biaya modifikasi ruangan : biasanya implementasi sisfo memaksa untuk merenovasi atau memodifikasi ruangan. Tidak hanya agar lebih nyaman, tetapi agar perangkat dari sisfo yang dirancang bisa bekerja dengan baik. Biaya yang dimasukan berupa perbaikan ruang, penambahan AC, dsb.

2. Biaya Persiapan Operasi. Dihitung pada tahun ke-0 juga. Contoh biaya persiapan operasi:

• Biaya aplikasi sistem informasi. Jika menyerahkan ke pihak ketiga lebih mudah menentukan nilainya berdasarkan desain sistem yang diajukan. Tapi jika membuat sistem sendiri agak sedikit rumit.
• Biaya instalasi jaringan komunikasi
• Biaya training, dihitung per-jam atau per-hari. Biaya training ditujukan untuk mereka yang akan menggunakan aplikasi tersebut seperti administrator, frontliner, bag. keuangan, bag.umum. dsb.

3. Biaya Proyek. Juga dihitung di tahun ke-0. Umumnya berupa biaya honor konsultan dan administrasi proses implementasi. Seperti biaya analis, programmer, web designer, akomodasi, pengumpulan data, dokumentasi, rapat, dsb.

4. Biaya Operasi dan Perawatan. Dihitung setelah tahun ke-0. Diperhitungkan hingga biaya investasi tertutupi. Dengan memperhitungkan komponen manfaat akan diketahui periode pengembaliannya. Contoh biaya operasi diantaranya perawatan hardware (ada biaya penyusutan juga), perawatan software, gaji personil, biaya overhead (listrik, telepon), dsb.

Download contoh CBA komponen biaya (excel)

Karakteristik Mobile COmmerce

M-commerce adalah suatu transaksi yang melibatkan proses transfer hak milik atau kepemilikan atas penggunaan barang atau jasa dengan menggunakan aplikasi akses bergerak ke komputer atau jaringan dengan bantuan perangkat elektronik

Sebagai derivasi aplikasi teknologi E-commerce, M-commerce memiliki karakteristik yang tidak dimiliki teknologi pendahulunya. Karakteristik M-commerce adalah sebagai berikut (Siau, et al., 2003, Stender, et al., 2006):

  1. Ubiquity, aplikasi M-commerce dapat digunakan dimana pun pengguna berada dan dalam situasi apa pun. Dengan kata lain layanan M-commerce tersedia kapan pun dan dimana pun dibutuhkan.
  2. Reachability, melalui perangkat handset pengguna dapat bertransaksi dan berkomunikasi dengan pihak lain yang tidak terjangkau karena perbedaan ruang dan waktu.
  3. Localization, M-commerce memberikan layanan aplikasi informasi lokasi yang dibutuhkan oleh pengguna berdasarkan lokasi fisik penggunanya (location based services-LBS).
  4. Personalization, aplikasi M-commerce hanya dapat digunakan oleh pengguna yang memiliki handset karena adanya perbedaan penomoran atau nomor unik yang dikeluarkan oleh penyelenggara telekomunikasi.
  5. Dissemination, handset memungkinkan pengguna menerima dan menyebarluaskan informasi secara cepat dan kini (saat itu juga).